Tarian Klasik Gaya Yogyakarta


Tidak hanya sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga merupakan pusat  budaya.  Kraton Kasultanan Ngayogyakarta memiliki budaya adiluhung bernilai seni yang sangat tinggi. Salah satunya adalah tari klasik gaya Yogyakarta yang sangat banyak macam dan jumlahnya karena mulai ada saat kraton berdiri dan masih tetap eksis lestari dan berkembang bahkan hingga sekarang dan seterusnya seiring dengan keberadaan kraton itu sendiri.
Tari klasik bukanlah semata-mata komposisi gerak tubuh yang disusun menjadi satu-kesatuan sajian tontonan yang utuh. Tapi dibalik tari klasik, tersimpan sebuah kisah atau makna filosofis yang sangat tinggi yang disampaikan sebagai sebuah pesan bagi kehidupan manusia. Di bangsal Sri Manganti Kraton Yogyakarta, hari Minggu (03/04/16) mengadakan pertunjukan 4 tarian klasik yang berbeda. Hanya dengan membayar tiket masuk Rp. 5000,- saja, kita akan disuguhi tarian yang sangat mengagumkan. Sebelum pertunjukan tari klasik dimulai, para wisatawan sudah berdatangan memenuhi kursi pengunjung dan duduk menunggu dimulainya pertunjukan  Tari Klasik Gaya Yogyakarta ini. Sebelum pertunjukan tarian dimulai, para pengunjung disuguhi dengan musik kesenian karawitan yang mengagumkan. Pertunjukan tarian klasik Gaya Yogyakarta dimulai dengan Tari Golek yang terdiri dari 3 penari perempuan. Tarian ini bercerita tentang daya tarik dan keindahan seorang perempuan yang mempercantik diri. Tiga penari perempuan tersebut membawakan tarian ini dengan sangat mengagumkan. Selain Tari Golek, pertunjukkan tari klasik minggu ini juga menampilkan 3 tarian lain, yaitu Tari Klana Topeng, Tari Beksan Srikandi Suradewati dan Tari Ramayana. Pertunjukan tari ini diadakan setiap hari Minggu pukul WIB.

1. Tari Golek

Tari Golek merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Penciptaan  tari Golek ini berawal dari ide Sri Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Proses penciptaan dan latihan untuk melaksanakan ide itu memakan waktu cukup lama. Pagelaran perdana dilaksanakan di Kraton pada tahun 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan.

Tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan dan biasanya dibawakan oleh tiga orang penari. Gerakannya sangat lembut dan penuh makna seolah sang penari sedang bersolek. Gerakan yang lain juga memperlihatkan seolah ia tengah menyulam. Balutan baju beludru merah serasi dipadankan dengan bawahan kain batik putih. Mahkota bersayap merah muda tambah mempercantik penampilan sang penari.



2. Tari Klana Topeng 

Tari Klana Topeng diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Singasari dan dianggap merupakan tarian khusus yang dulunya hanya boleh dimainkan di dalam keraton. Sesuai dengan namanya, penari tarian ini pasti akan menggunakan topeng sebagai media pendukungnya. 

Tari Topeng Klana adalah gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. 


3. Tari Beksan Srikandi Suradewati 

Beksan ini merupakan salah satu tari klasik asal Yogyakarta yang cerita di dalamnya diambil dari Serat Mahabhrata. Tari ini menceritakan tentang peperangan antara Dewi Srikandhi dan Dewi Suradewati. Suradewati merupakan adik dari Prabu Dasalengkara yang menginginkan Dewi Siti Sendari sebagai istrinya. Namun kenyataannya Dewi Siti Sendari telah terlebih dahulu dijodohkan dengan Raden Abimanyu.


Suradewati yang diutus oleh kakaknya untuk meminang Dewi Siti Sendari akhirnya berseteru dengan Dewi Srikandhi yang berada di pihak Raden Abimanyu. Akhirnya dalam peperangan tersebut Dewi Srikandi lebih unggul dan berakhir dengan kemenangannya, sementara Dewi Suradewati takluk dalam kekalahannya.

4. Tari Ramayana 


Tari Ramayana ini menceritakan bahwa Anoman diperintah Prabu Sri Rama untuk masuk ke taman Soka dan merusaknya, kemudian hal tersebut diketahui oleh Yosadewa. Hal itulah yang menimbulkan peperangan dianatara keduanya.Pemilihan bentuk sendratari sebagai penutur cerita pahlawan atau biasa disebut dengan wiracarita Ramayana karena sendratari mengutamakan gerak-gerak penguat ekspresi sebagai pengganti dialog, sehingga diharapkan penyampaian wiracarita Ramayana dapat lebih mudah dipahami dengan latar belakang budaya dan bahasa penonton yang berbeda.

Nah, ini nih foto aku sama 2 temenku waktu kita nonton pertunjukan Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Keraton hari Minggu kemarin(03/04/16).
Dista Anis Laras :)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

-keren bak putri lanjutkan?

Posting Komentar

Copyright 2009 ILMU PERPUSTAKAAN. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates